Hal Penting tentang SSP Pajak dan Cara Pengisiannya

SSP Pajak
SSP Pajak

Wajib pajak dituntut untuk melaporkan proses pembayaran pajak menggunakan SSP. Apa itu SSP Pajak dan bagaimana prosedurnya?

Sebagai warga negara yang baik, kita mempunyai kewajiban untuk membayar pajak. Setiap individu atau badan wajib membayar pajak.

Biasanya, proses pembayaran pajak dilakukan di KPP atau Kantor pelayanan pajak dengan mengisi formulir yang disebut SSP pajak.

Apa itu SSP?

Bagi Anda yang masih awam di bidang perpajakan, Anda mungkin masih asing dengan istilah tersebut. Untuk itu, pada penjelasan kali ini, akan dibahas tuntas hal-hal seputar pengertian dan fungsi SSP serta cara pengisiannya. Mari simak penjelasan berikut ini. 

Pengertian SSP Pajak dan Dasar Hukumnya

Pengertian SSP Pajak dan Dasar Hukumnya

SSP merupakan kepanjangan dari Surat Setoran Pajak.

SSP merupakan bukti pembayaran yang sudah dilakukan oleh wajib pajak dengan cara mengisi formulir dan membayarkan sejumlah uang pajak ke kas negara.

Pembayaran bisa dilakukan melalui kantor atau tempat pembayaran lainnya yang sudah ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

Fungsi SSP Pajak antara lain adalah sebagai bukti pembayaran pajak. Bukti tersebut bisa dianggap valid jika sudah disahkan oleh pejabat kantor tempat Anda membayar pajak.

 Jadi, dilihat dari fungsinya, SSP ini merupakan formulir yang sangat penting, terutama untuk Anda yang sudah membayar pajak. Anda harus melaporkannya sebagai bukti bahwa Anda sudah memenuhi kewajiban negara.

Dasar hukum surat setoran pajak mengacu pada Peraturan Ditjen Pajak. Dasar hukum terbaru termuat dalam Peraturan Ditjen Pajak Nomor 30/PJ/2015 pada 5 Agustus 2015.

Bentuk Formulir SSP Pajak

Bentuk Formulir SSP Pajak

Untuk Anda yang belum pernah melaporkan pajak, berikut adalah penjelasan mengenai bentuk SSP Pajak. Surat Setoran Pajak umumnya dibuat dengan jumlah 4 lembar. Penjelasan masing-masing lembar adalah sebagai berikut.

Lembar pertama dipakai untuk arsip wajib pajak, lembar kedua untuk Kantor Pelayanan dan Perbendaharaan Negara, lembar ketiga untuk dilaporkan ke KPP, dan lembar keempat dipakai untuk arsip bank atau badan penerima pembayaran.

  1. Panduan Mengisi SSP Pajak Secara Lengkap
  2. Pengisian SSP tidak boleh asal. Ada buku petunjuk khusus yang mengatur bagaimana cara mengisi SSP tersebut. Untuk Anda yang belum pernah sama sekali mengisi SSP, berikut adalah penjelasannya untuk Anda.
  3. Isi kolom NPWP, nama lengkap, dan alamat wajib pajak.
  4. Isikan NOP (Nomor Objek Pajak). NOP merupakan nomor identitas objek pajak. Untuk PBB atau Pajak Bumi Bangunan diberikan oleh Ditjen Pajak ketika dilakukan pendaftaran atau pendataan pajak PBB.
  5. Isi  bagian “KAP atau Kode Akun Pajak”. KAP merupakan kode khusus dari pajak yang akan disetorkan. Sebagai contoh, KAP untuk Pajak Penghasilan Pasal 21 yaitu KAP 411121.
  6. Isi bagian Kode Jenis Setoran. Kode Jenis Setoran disingkat dengan KJS. Sebagai contoh, KJS untuk setoran SPT Masa adalah 300.
  7. Lengkapi kolom “Masa Pajak” dengan cara membubuhkan tanda silang. Sesuaikan saja dengan tenggat waktu pajak yang disetorkan.
  8. Isi bagian kolom “tahun pajak”.
  9. Bagian “Nomor Ketetapan” diisi dengan menuliskan nomor ketetapan yang terdapat dalam SPP. Nomor Ketetapan bisa berupa SKPKB, SKPKBT , atau STP.
  10. Bagian “Jumlah Pembayaran pajak” wajib diisi dengan angka jumlah pajak yang disetorkan dalam angka rupiah penuh. Sementara itu, pada kolom “Terbilang”, Anda bisa mengisinya dengan huruf latin atau dalam bentuk kata-kata bahasa Indonesia.
  11. Kolom terakhir tentang Kantor Penerima Pembayaran akan diisi sendiri oleh kantor yang bersangkutan.
  12. Tanggal pembayaran, tanda tangan, dan nama jelas wajib pajak harus diisi dengan benar dan distempel untuk disahkan.

Langkah-Langkah Pembayaran SSP Pajak

Langkah-Langkah Pembayaran SSP Pajak

Usai mengisi rangkaian formulir yang panjang di atas, Anda bisa lanjut ke pembayaran pajak secara manual. Langkah-langkah yang harus Anda lakukan adalah sebagai berikut.

Pertama, serahkan SSP Pajak yang tadi sudah diisi ke teller bank. Anda juga bisa mengirim melalui kantor pos persepsi lengkap dengan uang setoran sebesar nilai yang sudah tertera di dalam SSP.

Kedua, lembar ke-1 dan ke-3 yang isinya NTPN dan NTB atau BTP akan dikirimkan lagi kepada Anda. SSP tersebut telah ditandatangani pejabat bank ataupun kantor pos yang nantinya digunakan sebagai bukti pembayaran.

Terakhir, laporkan bukti setor tersebut kepada KPP.

Karena Banyak Kekurangan, Diganti Menjadi SSE Pajak

Prosedur SSP Pajak dinilai mempunyai banyak kelemahan oleh Sebagian besar wajib pajak. Oleh karena itu, sejak tanggal 1 Juli 2016, pembayaran melalui SSP sudah tidak diberlakukan lagi oleh pemerintah. Sesuai dengan ketetapan pemerintah, SSP digantikan dengan SSE.

Sejak 2016 lalu, pemerintah telah meluncurkan G2 yang menjadi pengganti SSP. Surat Setoran Elektronik menggunakan sistem e-billing yang lebih memudahkan wajib pajak. Jadi, untuk Anda yang ingin mengurus SSP, sekarang ini Anda sudah bisa melakukannya secara online.

Demikian adalah penjelasan lengkap mengenai sistem SSP Pajak manual yang pernah berlaku di Indonesia. Seiring dengan semakin majunya teknologi, yang dulunya amat rumit sudah digantikan dengan SSE pajak.